Mengenai Saya

Foto saya
sumaterabarat, Indonesia
Perawat diruangan Neurologi rumah sakit stroke nasional bukittinggi dan sebagai dosen tetap di salah satu Prodi Keperawatan di salah satu Stikes di bukittinggi

Rabu, 20 Juli 2011

STANDARD KOMPETENSI LULUSAN PROGRAM D. III KEPERAWATAN


STANDARD KOMPETENSI LULUSAN PROGRAM D. III KEPERAWATAN


A.    NO UNIT                        :  1
B.     JUDUL UNIT                :  Menerapkan Konsep, Prinsip Etika Keperawatan dan Komunikasi      Dalam Praktik Keperawatan Profesional.

C.    URAIAN UNIT              :
Kompetensi ini menggambarkan kemampuan peserta didik dalam menerapkan berbagai konsep, prinsip etika keperawatan dan komunikasi yang terapeutik dan efektif dalam praktik pelayanan keperawatan di seluruh tatanan pelayanan kesehatan sesuai standard pelayanan dan kode etik profesi. Untuk hasil yang lebih akurat, unit ini dinilai terintegrasi dengan penilaian kompetensi dalam memberikan asuhan langsung pada pasien.


Elemen
Kriteria Pencapaian Kompetensi
1.      
Menghormati hak pasien
1.1.   Konsep dasar etika umum dan etika  keperawatan dijelaskan.

1.2.Hak sebagai pasien diidentifikasi

1.3.   Bentuk-bentuk pemenuhan hak individu sebagai pasien  dalam  pelayanan keperawatan dijelaskan.
1.4. Hak pasien dihormati dan diaplikasikan dalam  pelaksanaan praktik keperawatan.
2.      
Memperhatikan nilai, norma,  budaya dan agama dalam praktek keperawatan profesional

2.1.   Persepsi, orientasi dan nilai-nilai yang dianut pasien tentang kesehatan dan penyakit diidentifikasi
2.2.Prinsip tentang nilai, norma,  budaya dan agama
diaplikasikan dalam melaksanakan praktik keperawatan
2.3.   Sifat Hubungan  perawat dengan individu lain dalam tim pelayanan keperawatan diidentifikasi.
2.4.Aspek-aspek budaya yang terkait dengan kesehatan   dijelaskan
2.5.Sistem kesehatan tradisional yang ada diuraikan mencakup upacara tradisional/ritual, penggunaan obat/ramuan dari tumbuh-tumbuhan dan dukun.

3.      
Menjalankan peraturan, kebijakan dan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan praktik keperawatan
3.1.Peraturan, kebijakan dan perundangan yang berlaku dalam pelaksanaan praktik keperawatan diidentifikasi.
3.2.Peran, fungsi dan tugas perawat dalam pengembangan sistem pelayanan kesehatan dijelaskan
3.3.   Kode etik profesi keperawatan dilaksanakan dalam praktik keperawatan.
3.4.   Peraturan, kebijakan dan perundangan yang berlaku diaplikasikan dalam melaksanakan praktik keperawatan

4.       
Menjaga citra keperawatan profesional dalam memberikan pelayanan keperawatan
4.1.   Falsafah keperawatan dan paradigma keperawatan di fahami.
4.2.Keperawatan sebagai ilmu dan teori dieksplorasi.
4.3.   Pelayanan keperawatan dimanaje/dikelola dengan professional.
4.4.   Sikap profesional seorang perawat diaplikasikan
4.5.   Peningkatan mutu pelayanan keperawatan sebagai bagian dari profesionalisme dipahami
4.6.   Citra keperawatan profesional dalam  pelayanan keperawatan dilaksanakan, dijaga, dipertahankan dan ditingkatkan sesuai dengan perkembangan masyarakat (konsumen).

5.       
Bertindak  sebagai role model bagi pasien
5.1.      Konsep teori berubah dalam praktek  keperawatan dijelaskan
5.2.      Pola hidup dan pola pikir sebagai pembaharu dijelaskan
5.3.      Konsep tentang role model bagi pasien diaplikasikan.

6.       
Bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan tindakan profesional
6.1.      Tanggung jawab profesi, keputusan moral dan teori moral dilaksanakan dalam praktik keperawatan.
6.2.     Model pengambilan keputusan dilema etik secara bertanggung jawab diterapkan.
6.3.      Manajemen konflik dilaksanakan dalam melaksanakan praktik keperawatan.
6.4.      Konsep tentang tanggung jawab profesional diaplikasikan.

7.       
Menjalankan komunikasi terapeutik dalam praktek keperawatan

7.1.      Konsep komunikasi terapeutik dalam praktek keperawatan diterapkan sesuai dengan tingkat usia dan kondisi pasien
8.       
Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

8.1.      Berbahasa Inggris secara aktif.
8.2.      Mengalihbahasakan literatur keperawatan


D.    BATASAN VARIABEL
Unit ini menggambarkan sejumlah kemampuan dalam menerapkan berbagai konsep dasar  yang menjadi esensi penting dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Sebagai calon tenaga keperawatan profesional, para peserta didik diperhadapkan dengan berbagai kondisi yang memungkinkan konsep etika, budaya, nilai, norma dan agama serta komunikasi dapat diimplementasikan. Sebagai role model dalam lingkungan kerja, masyarakat ,juga menjadi aspek penilaian penting.

E.     ACUAN PENILAIAN


1.   Konteks Penilaian
Unit ini dapat dinilai pada pasien simulasi  atau terintegrasi dengan penilaian unit kompetensi  yang langsung menggunakan  kasus pasien di  klinik. Pasien simulasi dengan skenario kasus yang dapat mengungkap kemampuan peserta didik dalam melaksanakan unit kompetensi yang dipersyaratkan. Pada semua kasus atau berbagai kondisi patologis pasien  dapat digunakan dalam penilaian.

2.   Pre-requisite
2.1.   Hak pasien/keluarga
2.2.   Tanggung jawab perawat
2.3.   Prinsip norma dan etik dalam asuhan keperawatan
2.4.   Hubungan perawat-pasien
2.5.   Hubungan perawat dengan tim kesehatan lain
2.6.   UU praktik keperawatan dan UU Tenaga Kesehatan
2.7.   Praktik keperawatan profesional

3.Pengetahuan yang harus dimiliki
1.1.   Komunikasi terapeutik dan efektif
1.2.   Etika Keperawatan dan  Etika Profesi
1.3.   Peran dan Fungsi Perawat
1.4.   Keperawatan sebagai Profesi
1.5.   Bahasa Internasional : Inggeris


4.      Sikap kritis yang harus dimiliki
4.1.Kerja sama
4.2.Saling menghormati dan menghargai
4.3.Ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku


F.      
 METODA PENILAIAN
1.      Test : tertulis dan atau Lisan
2.       Non Test : Uji penampilan dan atau
3.      Penugasan dan atau
4.      Role Play dan atau
5.      Case study


A.       NO UNIT                                    :  2
B.        JUDUL                     : Menerapkan Pendekatan Proses Keperawatan dalam    Melaksanakan Asuhan Keperawatan dengan berfikir Kritis


C.       URAIAN UNIT                       :
Kompetensi ini menggambarkan kemampuan peserta didik mengaplikasikan proses keperawatan dalam melaksanakan asuhan keperawatan baik pada pasien, keluarga maupun pada masyarakat. Unit ini dimaksudkan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menerapkan proses perawatan dalam pemberian asuhan keperawatan dengan menggunakan berbagai metoda studi kasus dengan skenario dan penugasan-penugasan. Pada tahapan berikutnya, kompetensi ini dapat dinilai secara integratif dengan penilaian kompetensi asuhan keperawatan.


Elemen
Kriteria Pencapaian Kompetensi
  1.  
Melaksanakan pengkajian keperawatan secara sistematis
1.1.       Konsep proses perawatan dan prinsip berfikir kritis dijelaskan
1.2.      Konsep Manusia dan Kebutuhan dasar dalam hubungannya dengan pengkajian keperawatan dijelaskan.
1.3.      Prinsip komunikasi  diaplikasikan secara tepat  pada tahapan pengkajian
1.4.      Tahapan anamnese dilaksanakan secara tepat
1.5.       Prinsip budaya dalam melaksanakan anamnesa diidentifikasi.
1.6.       Berbagai teknik pemeriksaan fisik dilaksanakan dengan tepat.
1.7.      Kebutuhan alat dan bahan untuk pengkajian diidentifikasi sesuai dengan standar dan siap digunakan.
1.8.     Pasien yang akan dilakukan pengkajian dipersiapkan dengan benar.
1.9.      Pengumpulan data dilakukan secara komprehensif. Dengan metoda yang tepat
1.10.   Berbagai sumber data penting pasien digunakan.

  1.  
Merumuskan Diagnosa Keperawatan

2.1.    Pengelompokan data rasional .
2.2.   Masalah  yang  muncul merupakan kesimpulan analisa data yang diidentifikasi
2.3.    Masalah keperawatan sesuai kondisi patologis diidentifikasi
2.4.    Penyebab masalah keperawatan diidentifikasi secara rasional
2.5.  Diagnosa keperawatan dirumuskan secara lengkap.

  1.  
Menyusun rencana Keperawatan
3.1.   Prinsip berpikir kritis diaplikasikan dalam menyusun prioritas masalah.
3.2.   Tujuan keperawatan yang SMART dirumuskan.
3.3.   Intervensi keperawatan disusun dapat menghilangkan atau mengurangi masalah pasien.
3.4.   Intervensi keperawatan ditetapkan berdasarkan tindakan mandiri dan kolaboratif.
3.5.   Tindakan keperawatan ditetapkan mencakup upaya preventif, promotif, kuratif/suportif dan rehabilitatif.

4.       
   Melaksanakan tindakan keperawatan
4.1.    Prinsip dan teknik komunikasi pada pelaksanaan tindakan keperawatan diaplikasikan.
4.2.    Konsep dan prinsip etika keperawatan serta norma dalam pelaksanaan tindakan keperawatan diaplikasikan
4.3.    Konsep dan prinsip budaya dipertimbangkan dalam pelaksanaan  tindakan keperawatan.
4.4.    Tindakan dilaksanakan mengacu pada perencanaan
4.5.    Tindakan yang akan dilakukan dikomunikasikan pada pasien dan keluarga.
4.6.    Tindakan keperawatan dilaksanakan sesuai dengan standard prosedur

  1.  
Melaksanakan evaluasi    keperawatan 
5.1.   Cara mengevaluasi Tujuan asuhan keperawatan dipahami.
5.2.Data dikumpulkan sesuai kriteria tujuan
5.3.Metoda evaluasi diaplikasikan
5.4.    Keberhasilan asuhan keperawatan  disampaikan   pada pasien
5.5.    Rencana tindak lanjut dirumuskan bersama dengan pasien

  1.  
Melaksanakan dokumentasi keperawatan
6.1.    Teknik pencatatan  data keperawatan dijelaskan
6.2.   Tujuan dan model penyimpanan dokumen difahami.
6.3.    Prinsip  pendokumentasian diaplikasikan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
6.4.    Setiap tahapan asuhan didokumentasikan pada catatan rekam keperawatan
6.5.   Prinsip aspek legal dan etik keperawatan diterapkan   dalam pendokumentasian asuhan keperawatan.

D.     BATASAN VARIABEL
      Unit ini    dapat    dinilai  melalui simulasi kasus dengan membuat skenario kondisi pasien
      sesuai       dengan         pencapaian     kompetensi       yang     diharapkan.  Penilaian secara
      komprehensif    dan     integratif        terhadap        unit ini  dapat dilakukan pada penilaian
      unit kompetensi lain pada tahap lanjutan.
Penilaian terhadap pendokumentasian menekankan pada kaedah pendokumentasikan secara teoritis yang berlaku di institusi .

E. ACUAN PENILAIAN

6.5.1.                                                    1.  Konteks Penilaian
   Penilaian  dilakukan secara individual , melalui telaahan kasus simulasi atau penilaian   secara bersama dalam asuhan keperwatan pasien dengan berbagai kondisi patologis. Artinya secara integratif dapat dinilai pada penilaian unit kompetensi lain pada tahap lanjutan  
6.5.2.                                                 
6.5.3.                                                    2. Pre-requisite
2.1.   Konsep Manusia
2.2.   Kebutuhan Dasar Manusia
2.3.   Etika Umum, Etika Keperawatan

3.      Pengetahuan yang  harus dimiliki
3.1.      Konsep berpikir kritis
3.2.      Konsep proses perawatan
3.3.      Pengumpulan data
3.4.      Analisa data
3.5.      Diagnosa keperawatan
3.6.      Perencanaan keperawatan
3.7.      Implementasi keperawatan
3.8.      Evaluasi keperawatan
3.9.    Konsep pendokumentasian keperawatan

4.      Sikap kritis yang harus dimiliki
4.1. Teknik komunikasi
4.2. Ketelitian
4.3. Kerjasama

F.  METODA PENILAIAN
1.                     Test        : Tertulis dan atau Lisan
2.         Non Test :  Simulasi dan atau
3.         Uji Penampilan dan atau
4.                     Penugasan dan atau
5.                     Case Study

Selasa, 24 Mei 2011

Acne vulgaris


Acne vulgaris

Definisi
Jerawat (acne) adalah kondisi abnormal kulit akibat gangguan berlebihan produksi kelenjar minyak (sebaceous gland) yang menyebabkan penyumbatan saluran folikel rambut dan pori-pori kulit. Daerah yang mudah terkena jerawat ialah di muka, dada, punggung dan tubuh bagian atas lengan. Peradangan pada kulit terjadi jika kelenjar minyak memproduksi minyak kulit (sebum) secara berlebihan sehingga terjadi penyumbatan pada saluran kelenjar minyak dan pembentukan komedo (whiteheads) dan seborhoea. Apabila sumbatan membesar, komedo terbuka (blackheads) muncul sehingga terjadi interaksi dengan bakteri jerawat.

Jerawat digolongkan ringan bila bentuknya masih komedo dengan jumlah lesi kurang dari 30. Apabila jumlah lesi berkisar antara 30-125 maka dinamakan jerawat sedang (papule). Jerawat besar yang disebut nodul atau kista timbul bila lesi di atas 125. Selain itu, dibawah ini juga termasuk dalam perbedaan jenis jerawat :
☺ Jerawat pada bayi yang baru lahir (newborn acne) : Jerawat jenis ini menyerang sekitar 20% bayi yang baru lahir dan tergolong jerawat ringan.
☺ Jerawat pada bayi (infantile acne): Bayi berumur 3 – 6 bulan juga ditumbuhi jerawat, dan akan tumbuh kembali pada saat ia beranjak remaja.
☺ Jerawat vulgaris (Acne vulgaris) : Jerawat jenis ini adalah yang paling umum terjadi pada remaja dan kaum muda yang beranjak dewasa, sekitar 12 – 24 tahun.
☺ Jerawat conglobata (cystic acne) : Jerawat jenis ini terjadi pada kaum pria muda, tergolong serius tapi jarang terjadi.
Munculnya jerawat sering terjadi pada masa pubertas antara usia 14-19 tahun yang disebabkan oleh perubahan hormon pada remaja. Deteksi jerawat sejak dini sangat sulit sebab sebelum masa pubertas kulit anak akan mengalami pengelupasan tiga minggu sekali. Sedangkan ketika remaja, kulit mengelupas empat minggu sekali. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 85% populasi mengalami jerawat pada usia 12-25 tahun, 15% populasi mengalaminya hingga usia 25 tahun. Jika tidak teratasi dengan baik, gangguan jerawat dapat menetap hingga usia 40 tahun.
Selain menimbulkan bekas jerawat, efek utamanya adalah pada jiwa seseorang, seperti krisis percaya diri atau minder dan depresi. Komponen konsep diri yang sering terganggu pada remaja dengan munculnya jerawat yaitu gambaran diri (body image) dan harga diri, dimana pada masa remaja fokus individu terhadap fisik lebih menonjol dari periode kehidupan lain. Bentuk tubuh merupakan bagian dari gambaran diri, pada remaja yang berjerawat mengakibatkan perubahan bentuk tubuh dari remaja tersebut yang akan berdampak pada interaksi atau hubungan sosial dilingkungan, dimana remaja menjadi minder dan merasa tidak percaya diri yang akan mengakibatkan rendahnya harga diri. Tetapi tidak semua remaja yang berjerawat dapat mengalami gangguan konsep diri, hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pendidikan, pekerjaan, pengetahuan/ informasi yang didapat dari media.

Etiologi
Jerawat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :

1. Faktor internal
Seperti stress atau tekanan kejiwaan, adanya iritasi kulit, kelenjer minyak yang diproduksi terlalu berlebih, dan lain-lain.

2. Faktor makanan
o Tumbuhan kacang-kacangan seperti kacang tanah, kedelai dan kacang hijau.
o Produk ayam. Sebagian orang mengatakan bahwa mengkonsumsi daging dan telur ayam dapat menyebabkan timbulnya jerawat.
o Makanan pedas. Banyak orang yang mengatakan bahwa makanan pedas dapat menyebabkan timbulnya jerawat.
o Pil KB dan obat-obatan lain yang dapat menimbulkan efek samping berjerawat.
o Makanan berlemak tinggi.
o Makanan yang mengandung kadar garam tinggi. Para ahli telah mengadakan penelitian mengenai hal ini, yaitu dengan cara memberikan makanan berkadar garam rendah kepada penderita jerawat. Setelah dua minggu, jerawat di kulit pasien tersebut berangsur-angsur sembuh. Dalam dua bulan berikutnya kulit pasien tersebut kembali pulih seperti semula. Yang termasuk makanan berkadar yodium tinggi contohnya adalah sea food.
o Susu. Setelah melakukan penelitian, sebagian pakar mengatakan bahwa mereka yang mengkonsumsi tiga gelas susu atau lebih dalam sehari memiliki kecenderungan terkena jerawat 22% lebih tinggi daripada mereka yang hanya mengkonsumsi satu gelas susu atau tidak sama sekali perharinya.
o Makanan lain yang mengandung kadar kalori tinggi. Para ahli mengatakan bahwa pembatasan kalori dapat membantu mempercepat sembuhnya jerawat.

3. Faktor ekternal
o Faktor genetik keturunan dari orangtua.
o Debu dan kotoran lain yang dapat mendatangkan bakteri penyebab timbulnya jerawat.
o Berada di dalam lingkungan dengan kandungan klorin tinggi. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya jerawat yang serius.
o Pemakaian kosmetik yang tidak cocok

Manifestasi klinis
Erupsi kulit berupa komedo,papul,pustul,nodul,atau kista dapat disertai gatal

Patofisiologi
Asam lemak bebas yang terbentukdari trigliserin dalam sebum menyebabkan kekentalan sebum bertambah dan menimbulkan sumbatan saluranpilosebasea serta reaksi radang disekitarnya(disebut komedo genik) .Perubahan pola keratinisasi folikel,produksi sebum yang berlebihan dan peningkatan flora folikel juga berkaitan dengan patogenesis penyakit

Komplikasi
1 pembentukan sikatrik (jaringan parut)
2 Infeksi yang disebabkan oleh suatu infeksi jamur


Penatalaksanaan
1.Pencegahan
-Melakukan perawatan kulit untuk membersihkan permukaan kulit dari kotoran dan jasat  renik yang memiliki peran etiopatogenesis acne vulgaris.
-Menghindari terjadinta faktor pemicu terjadinya akne
2.Pengobatan
Secara umum, ada dua hal yang perlu dilakukan dalam menghilangkan jerawat. Hal pertama adalah mencari tahu apa yang menjadi penyebab jerawat, kemudian berusaha menghindari hal yang menjadi penyebab jerawat tersebut. Hal kedua adalah melakukan pengobatan terhadap jerawat yang telah muncul. Dengan mengetahui apa yang menjadi penyebab jerawat pada diri seseorang, maka seseorang tersebut dapat menentukan dengan benar solusi apa yang perlu dilakukannya.
Kedua hal tersebut perlu dilakukan agar jerawat dapat sembuh dengan sempurna. Jika seseorang hanya mencoba mengobatinya saja, tanpa berusaha menjauhi hal-hal yang menjadi penyebabnya, maka bukan tidak mungkin jerawat dapat muncul kembali di hari yang lain. Dan jika seseorang salah mendeteksi apa yang menjadi penyebab jerawat pada dirinya, maka orang tersebut dapat mengambil solusi yang salah dalam menangani masalah jerawatnya

Prognosis
Baik,tetapi sering residif pada sebagian pasien






Asuhan keperawatan Acne vulgaris
1.Pengkajian
Pengkajian meliputi:identitas klien,riwayat kesehatan,pemeriksaan fisik
2.Diagnosa Keperawatan
  1. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan inflamasi lesi akne.
  2. Ansietas berhubungan dengan lesi akne.
  3. Gangguan integritas kulit yang ditandai dengan adanya papula eritematosa, pustule, dan kista inflamatorik.
  4. Risiko infeksi berhubungan dengan infeksi bakteri kulit.
  5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan faktor pemicu dan perawatan akne.
3.Intervensi
1.Gangguan citra tubuh berhubungan dengan inflamasi lesi akne.
  • Dorong klien untuk menyatakan perasaan tentang penyakitnya pertahankan pendekatan positif, hindari ekspresi menghina atau reaksi berubah mendadak.
  • Bersikap realitis dan positif selama pengobatan, pada penyuluhan kesehatan.
2. Ansietas berhubungan dengan lesi akne.
  • Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.
  • Berikan lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau
3. Gangguan integritas kulit yang ditandai dengan adanya papula eritematosa, pustule, dan kista inflamatorik.
  • pada klien bahwa pengobatan biasanya memerlukan waktu 4-6 minggu atau lebih.
  • Dorong klien untuk menghindari semua bentuk friksi (menggaruk, mengutik –ngutik dengan tangan, dll) anjurkan klien untuk menghindari krim kulit apap
4. Risiko infeksi berhubungan dengan infeksi bakteri kulit.
  • Tekankan klien untuk tidak memijat jerawat atau mengotak-ngatiknya.
  • Pertahankan personal hygiene, terutama pada area tangan
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan faktor pemicu dan perawatan akne.
  • Tekankan pada klien bahwa masalah yang dihadapinya tidak berhubungan dengan ketidakbersihan, kesalahan makan, aktivitas seksual, ataupun kesalahan konsep lainnya yang sering dijumpai.
  • Informasikan mengenai obat-obat oral serta topical beserta efek sampingnya yang potensial.